Pemberian ranking di sekolah, perlukah?
sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 17/12/2023.
Semester Gasal Tahun pelajaran 2023/2024 akan segera berakhir, sesuai dengan jadwal, SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat akan membagikan raport hasil belajar seluruh peserta didik pada hari Jumat, 22 Desember 2023. SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat sebagai pelaksana program sekolah penggerak angkatan 3 menerapkan kurikulum merdeka untuk kelas X dan XI serta kurikulum 2013 untuk kelas XII. Kurikulum Merdeka dari segi penilaiannya berbeda dengan kurikulum terdahulu yaitu Kurikulum 2013, dimana penilaian terdiri dari penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pada kurikulum ini, penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi.
Satu pertanyaan yang kerapkali diajukan orangtua kepada guru wali kelas, pada momen pembagian raport anaknya adalah pertanyaan mengenai ranking. SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat juga mengambil kebijakan tidak mencantumkan ranking di raport, tidak jarang memancing pendapat-pendapat yang pro dan kontra. Tentu kebijakan tersebut diambil sesuai dengan apa yang terkandung dalam Kurikulum Merdeka serta melalui kajian-kajian, analisis.
Yang menjadi dasar dari kebijakan yang diambil adalah hakikat dari tujuan belajar di sekolah adalah menguasai ilmu pengetahuan,keterampilan serta memiliki akhlak yang mulia. Proses belajar tersebut harus dapat dimonitor melalui data yang tertera di raport atau buku laporan hasil belajar siswa, baik berupa angka yang mencerminkan seberapa besar nilai prestasi siswa dalam menguasai materi pelajaran yang diajarkan ataupun data keterangan yang menjelaskan bagaimana sikap dan cara kerja siswa dalam kegiatan belajar di ekolah.
Ranking, sebagai salah satu bentuk data kuantitatif yang tertera di raport, dapat menunjukkan posisi atau urutan prestasi seorang siswa dilihat dari prestasi seluruh siswa dalam kelas atau sekolahnya. Semakin tinggi nilai ranking yang diperoleh, idealnya dapat mencerminkan semakin tinggi pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Atau sebaliknya, semakin rendah nilai ranking berarti semakin rendah pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Namun pada kenyataannya, nilai ranking yang ada, tidak selamanya bisa menunjukkan secara akurat seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan belajar siswa. Hal ini bisa terjadi misalnya karena adanya kecurangan yang dilakukan siswa pada saat pengambilan nilai dilakukan ( misal : siswa menyontek), ketidak validan alat tes (misal : soal-soal terlalu mudah atau tidak bisa mengukur tingkat penguasaan materi) atau adanya faktor subjektivitas guru terhadap penilaian yang diberikan kepada masing-masing siswa (misal: "murah" dalam memberi nilai kepada siswa yang satu, tapi ‘mahal’ memberi nilai pada siswa yang lain). Bila hal ini yang terjadi maka pemberian ranking tidak akan bermanfaat dalam membuat pemetaan tentang prestasi akademik siswa atau pemetaan tentang sejauhmana keberhasilan mencapai tujuan belajar.
Penekanan pada prestasi akademik semata pada saat penentuan ranking yang selama ini dilakukan, juga seringkali dianggap sebagai segi negatif dari adanya pemberian ranking. Karena hal ini dianggap mengabaikan prestasi-prestasi non akademik yang dimiliki siswa. Siswa yang memiliki ranking tinggi atau dianggap pintar, bisa saja sebenarnya memiliki banyak kelemahan dalam bidang non akademis. Atau sebaliknya, seorang siswa yang memiliki ranking rendah atau dianggap tidak pintar, belum tentu seorang tidak memiliki keunggulan atau kelebihan.
Misalnya Siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang matematika akan sangat sulit dibandingkan kemampuannya dengan siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal olahraga atau seni. Padahal dalam proses pembuatan ranking, semua bidang kemampuan akademik dinilai setara satu sama lainnya, dan bisa dijumlahkan.
Segi negatif lain dari pemberian ranking adalah adanya kecenderungan untuk memberi label pada siswa. Pada siswa yang memperoleh nilai ranking yang baik (misalnya 5 atau 10 besar), maka secara tidak langsung akan di”cap” pintar sehingga bukan tidak mungkin akan membuat siswa menjadi sombong atau “overconfidence”. Sebaliknya siswa yang mendapat nilai ranking rendah , bukan tidak mungkin akan menjadi anak yang rendah diri.
Selain itu, pemberian ranking juga bisa membuat sebagian siswa menjadi merasa tertekan atau merasa stress, karena ia merasa kalah bersaing dengan teman-temannya. Dengan adanya perasaan stress ini, bukan tidak mungkin justru membuatnya semakin tidak bersemangat untuk belajar dan membuatnya semakin mendapatkan nilai ranking yang rendah, demikian seterusnya sehingga konsep dirinya menjadi semakin buruk.
Walaupun demikian, pemberian ranking sebenarnya juga masih memiliki manfaat, misalnya bagi siswa dengan gaya belajar tertentu (menyukai tantangan), maka dengan adanya ranking bisa memacu semangat belajarnya. Selain itu, dengan adanya ranking, guru dapat lebih mudah untuk mengelompokkan siswa yang pintar dan kurang pintar sehingga kelas menjadi lebih homogen dan memudahkan guru untuk menyesuaikan metode pengajarannya dengan daya tangkap kelompok siswa tersebut.
Melihat segi negatif yang lebih banyak ketimbang segi positif dari pemberian ranking di raport siswa, seperti diuraikan di atas, maka kebijakan untuk tidak mencantumkan ranking di raport tampaknya dapat menjadi alternatif yang bijaksana. Hal ini mengingat bahwa tujuan belajar yang sesungguhnya adalah bagaimana siswa bisa menguasai ilmu atau ketrampilan yang diajarkan kepadanya, bukan untuk membandingkannya dengan siswa lain, yang bisa mengarah pada terabaikannya potensi dan kemampuan khas yang dimiliki masing-masing siswa.
Kalaupun tetap ingin memberikan ranking, hendaknya ranking cukup diketahui oleh guru atau orangtua murid saja dengan maksud untuk keperluan-keperluan khusus, seperti untuk menjadi bahan pertimbangan pada proses seleksi ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, merencanakan program-program remedial atau program-program yang dapat mengoptimalkan potensi siswa, dan sebagaianya. Namun demikian, bila hal ini dilakukan, maka perlu diingat bahwa pemberian ranking tersebut bukan ditujukan untuk membedakan besarnya penghargaan yang akan diberikan kepada siswa. Setiap siswa harus dihargai apa adanya yaitu sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Setiap siswa mempunyai bakat, potensi yang berbeda, kelebihan dan kekurangan masing-masing, mari kita sebagai guru bersama-sama mengembangkan hal tersebut.
Disadur dari berbagai sumber
SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat: Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.
Together Everyone Achieves More. Yes!

Komentar
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Raih Empat Juara Pertama pada FLS3N Tingkat Kabupaten 2026
sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 02/05/2026 Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh siswa-siswi SMAN 15 Tanjung Jabung Barat. Dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasion
KEPMENDIKDASMEN 271/O/2025: PANDUAN LENGKAP PENGELOLAAN KINERJA GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TERBARU
sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 22/12/2025 Pendahuluan: Era Baru Pengelolaan Kinerja di Dunia Pendidikan Pemerintah telah menetapkan regulasi baru melalui Keputusan Menteri P
Mengapa Pembelajaran Mendalam Penting? Menghubungkan Deep Learning, Deep Thinking, dan Deep Work
sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 15/11/2025 Di era perubahan yang berlangsung begitu cepat, pembelajaran tidak cukup berhenti pada tingkat hafalan atau sekadar mengenal informa
SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Laksanakan Pembelajaran Mandiri Selama Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025
sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 31/10/2025 Menindaklanjuti surat dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Nomor R-400.3/S-906/DISDIK/X/2025 tertanggal 30 Oktober 2025, SMAN 15 Tan
Debat dan Kampanye Pemilihan Ketua/Wakil Ketua OSIS dan MPK SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Masa Bakti 2025/2026
sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 30/09/2025 Suasana demokrasi terasa hangat di lingkungan SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan Deba



Luar biasa. Sukses selalu untuk SMAN 15 Tanjung Jabung Barat