• SMAN 15 TANJUNG JABUNG BARAT
  • KAMPUS HIJAU BERKILAU

MELURUSKAN MISKONSEPSI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 11/12/2023. 

Hampir seluruh sekolah di kabupaten Tanjung Jabung Barat melaksanakan IHT dengan mengangkat tema tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. Lalu hampir semua guru mengunggulkan pembelajaran berdiferensiasi memulai dengan asesmen diagnostik, gaya belajar dan membentuk kelompok belajar sesuai dengan visual, auditori dan kinestetik.

Tone yang sama dari karya ilmiah yang disusun guru tidak lepas dari pemahaman bahwa tema “Merdeka Belajar” berarti mengajar menggunakan pendekatan Differentiated Learning.

Setiap kurikulum memang membawa pesan, tergantung dari pendekatan besar apa setting mindset dimulai. Misalnya pada K13, menggunakan pendekatan behavior, maka pendekatan pembelajaran yang digaungkan saat itu adalah scientific approach atau pendekatan saintifik yang kita kenal sebagai 5M. Sementara pada Kurikulum Merdeka, pola keluwesan dalam menentukan capaian pembelajaran menggunakan taksonomi Wiggins dan Tighe, maka pendekatan yang digunakan berbasis kontruktivisme. Sehingga pendekatan pembelajaran yang ditawarkan adalah Differentiated Learning.

Differentiated Learning atau pembelajaran berdiferensiasi, sejatinya bukan hal yang baru meski tidak selalu mudah diterapkan. 

Pembelajaran berdiferensiasi sendiri memiliki karakteristik belajar yang memerdekakan potensi siswa, pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas siswa. Sehingga siswa diharapkan memiliki pengetahuan yang berkembang, dinamis dan gemar belajar karena memahami potensi diri. Diferensiasi dalam pelaksanaan pembelajaran terdiri dari (1) Diferensiasi Konten, (2) Diferensiasi Proses, (3) Diferensiasi Produk, sebagian teori menambahkan juga (4) Diferensiasi Lingkungan Belajar.

Namun ketiga atau keempat aspek diferensiasi tersebut tidak mutlak harus hadir dalam setiap pembelajaran. Tergantung kebutuhan pembelajaran yang mampu mengakomodasi kepentingan potensi siswa. Hal ini kita sepakat semua. Clear.

Lalu mulailah miskonsepsi terjadi, diantaranya, apakah setiap pembelajaran dalam kurikulum merdeka mengharuskan dengan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi ?!. Tentu saja tidak. Namanya pendekatan, sesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Jika pada materi yang dianggap dapat dipahami mudah oleh siswa setiap tingkatan kognitif atau disebut dengan pemahaman awal konsep, tentu saja tidak perlu pembelajaran berdiferensiasi.

Lalu apakah dalam memulai pembelajaran berdiferensiasi harus diikuti oleh asesmen diagnostik kognitif maupun non kognitif ?!. Tentu saja tidak. Buat apa membuat asesmen selalu jika guru sudah data awal. Semisal data gaya belajar, tak perlu bukan harus diuji setiap memulai pembelajaran. Data kognitif siswa juga dapat diperoleh pada data sebelumnya yang dapat dijadikan sandaran awal tindakan pembelajaran berikutnya. Toh guru bukan tukang riset dadakan bukan ?!. Kemampuan siswa secara kognitif sudah tergambar jelas jika pembelajaran sudah dilakukan secara berkesinambungan.

Apakah gaya belajar siswa mutlak diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi ?!. Lagi-lagi tentu saja tidak. Gaya belajar siswa dapat digunakan dalam pendekatan pembelajaran apa pun. Pembelajaran berdiferensiasi pun tidak mesti harus dimulai dari asesmen non kognitif gaya belajar. Dapat juga dimulai dari data kognitif siswa. Pembelajaran berdiferensiasi yang dimulai dari kognitif siswa lalu diberi tindakan intensitas pembelajaran disebut Teaching at the Right Level (TaRL).

Apakah pengelompokan belajar siswa dalam pembelajaran berdiferensiasi dilakukan berdasarkan gaya belajar siswa ?!. Miskonsepsi ini paling bias !!. Hampir seluruh guru melakukan pembelajaran dengan mengelompokkan siswa berdasarkan visual, auditori dan kinestetik.

Jadi sebelum pembelajaran, guru memetakan siswa melalui asesmen diagnostik gaya belajar. Sehingga diperoleh siswa dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Siswa yang visual dibentuk dalam kelompok visual, begitu pula dengan siswa yang auditori dan kinestetik. Dibentuk dalam kelompok masing-masing sesuai gaya belajar. Lalu guru memberi konten dan intruksi yang berbeda. Tagihan pembelajaran pun berbeda sesuai dengan gaya belajar.

Lalu kita perlu bertanya, dasar teorinya apa ?!, pertanyaan yang sama ketika kita bertanya kepada sebagian guru penggerak yang memiliki pengetahuan tanpa dasar teori seperti di atas. Lalu mereka menyalahkan sanad ilmu mereka yang mengharuskan mereka menerapkan seperti di atas. Kita tidak tahu dasar biasnya dari siapa. Rata-rata guru penggerak menerapkan seperti pola di atas.

Misal, seorang guru Kimia yang menerapkan pembelajaran diferensiasi menceritakan bahwa, dia membentuk tiga kelompok belajar dari hasil asesmen gaya belajar yaitu visual, auditori dan kinestetik. Lalu anak visual diberi konten materi melalui video pembelajaran, belajar melalui kelompok, proses diskusi kelompok. Audirori diberi bahan bacaan berbentuk dokumen (konten), salah satu dari siswa membaca hingga teman-teman kelompoknya paham (proses). Sementara anak-anak kinestetik diberi mikroskop, mengamati pergerakan melalui mikroskop, diskusi kelompok dan mengambil kesimpulan. Setiap kelompok siswa presentasi dan mengumpulkan tugas sesuai gaya belajar mereka (diferensiasi produk). Nah, kira-kira, guru kimia ini sedang mengarang atau bagaimana?

Tidak seperti itu kita memahami. Dalam buku Quantum Learning dan beberapa referensi di Elsevier misalnya jelas disebut bahwa gaya belajar diperuntukkan bagi penanganan siswa secara pribadi, bukan dijadikan pengelompokan. Perlu dipahami bahwa gaya belajar hanyalah suatu kecenderungan. Bukan sesuatu yang mutlak. Namanya cenderung, tentu saja seorang anak tidak hanya visual, dia juga dapat auditori bersamaan, atau kinestetik. Anak hanya memiliki dominan dari visual, auditori atau kinestetik, bisa jadi juga tidak ada yang dominan, bisa jadi ada dua yang dominan namun unsur lain tetap muncul.

Sehingga untuk pembentukan kelompok belajar, gaya belajar tidak dapat dijadikan panduan. Lagi pula bagaimana membentuk kelompok berdasarkan gaya belajar jika kecenderungan itu tidak relatif berimbang pada jumlah siswa. Apa mungkin jika hanya dua anak yang kinestetik, lalu hanya dua orang yang memegang mikroskop ?!. Bentuklah kelompok dengan anak yang beragam, kehidupan mereka sehari-hari menuntut mereka untuk berbaur membangun kolaborasi. Buatlah kelompok belajar semisal dengan hasil kognitif mereka yang beragam. Dalam satu kelompok ada yang kemampuan tinggi, sedang dan rendah, lalu guru memberi penanganan secara individu berdasarkan gaya belajar siswa.

Apakah kelompok dapat dibentuk jika anak pintar dalam kelompok pintar, anak sedang sesama anak sedang, anak berkemampuan lemah memiliki kelompok sendiri ?!. Boleh saja, namun jangan lakukan di awal pertemuan. Pembentukan kelompok dengan pola seperti itu pun hanya bersifat sementara, untuk memberikan intensitas pembelajaran yang berbeda-beda.

Sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi sudah biasa dilakukan oleh guru. Siswa dibentuk dalam kelompok untuk saling berkolaborasi. Terkadang guru mendekati beberapa siswa yang masih lemah dalam suatu kelompok untuk dijelaskan kembali konsep pembelajaran. Pendekatan individual tersebut merupakan contoh diferensiasi proses. Apalagi jika guru misalnya menarik materi sedikit ke belakang agar terjadi apersepsi bagi siswa, diberikan materi tertentu untuk mengingat kembali dan menguatkan pengetahuan baru, langkah tersebut disebut diferensiasi konten. Bukankah sudah sering dilakukan guru ?!

Tagihan tugas biarkan secara merdeka dilakukan oleh siswa, kecenderungan gaya belajar akan memudahkan siswa dalam membuat produk pembelajaran mereka. Boleh jadi siswa membuat dalam bentuk video, infografis, teks dokumen. Tanpa perlu memandang gaya belajar mereka apa.

Semoga bermanfaat

SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat: Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.
Together Everyone Achieves More. Yes!

 

 

Komentar

Tulisan yang mencerahkan, karena hampir semua guru itu membedakan gaya belajar siswa AVK yang menurut saya kurang begitu pas dengan kecerdasan siswa.

saya sangat setuju,bahkan pada saat peraktik mengajar,sy merasa kebingungan dengan mengelompokan anak yg pintar dan yang kurang

Saya setuju dengan berbagi informasi ini. Terima kasih sudah memberi pencerahan. Tinggal kita sebagai Guru dapat memperkuat dengan perencanaan yang matang agar semua murid dapat terpenuhi kebutuhan belajar nya

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Raih Empat Juara Pertama pada FLS3N Tingkat Kabupaten 2026

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 02/05/2026 Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh siswa-siswi SMAN 15 Tanjung Jabung Barat. Dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasion

02/05/2026 21:00 - Oleh Administrator - Dilihat 289 kali
KEPMENDIKDASMEN 271/O/2025: PANDUAN LENGKAP PENGELOLAAN KINERJA GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TERBARU

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 22/12/2025 Pendahuluan: Era Baru Pengelolaan Kinerja di Dunia Pendidikan Pemerintah telah menetapkan regulasi baru melalui Keputusan Menteri P

22/12/2025 22:45 - Oleh Administrator - Dilihat 1196 kali
Mengapa Pembelajaran Mendalam Penting? Menghubungkan Deep Learning, Deep Thinking, dan Deep Work

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 15/11/2025 Di era perubahan yang berlangsung begitu cepat, pembelajaran tidak cukup berhenti pada tingkat hafalan atau sekadar mengenal informa

15/11/2025 22:02 - Oleh Administrator - Dilihat 932 kali
SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Laksanakan Pembelajaran Mandiri Selama Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 31/10/2025 Menindaklanjuti surat dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Nomor R-400.3/S-906/DISDIK/X/2025 tertanggal 30 Oktober 2025, SMAN 15 Tan

31/10/2025 04:17 - Oleh Administrator - Dilihat 1003 kali
Debat dan Kampanye Pemilihan Ketua/Wakil Ketua OSIS dan MPK SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Masa Bakti 2025/2026

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 30/09/2025 Suasana demokrasi terasa hangat di lingkungan SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan Deba

30/09/2025 16:00 - Oleh Administrator - Dilihat 828 kali