• SMAN 15 TANJUNG JABUNG BARAT
  • KAMPUS HIJAU BERKILAU

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI, MATERI IHT HARI PERTAMA SMAN 15 TANJUNG JABUNG BARAT

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 18/09/2023.

Senin, 18 September 2023. SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat melaksanakan IHT Implementasi Kurikulum Merdeka pada Program Sekolah Penggerak. Setelah pembukaan oleh Kepala SMAN 15 Tanjung Jabung Barat, Bapak Mohsin, S.Pd., M.Si., dilanjutkan penyampaian materi Pembelajaran Berdiferensiasi mencakup pengembangan ATP dan Penyusunan Modul Ajar, Oleh Bapak Rahmat,Hidayat, M.Si., Duta Teknologi Kemendikbudristek Jambi 2022. 


   

Pembukaan IHT Oleh Kepala SMAN 15 Tanjung Jabung Barat

  

Pemaparan Materi Pembelajaran Oleh Narasumber

Dan berikut Pemaparan Tentang Pembelajaran Berdiferensiasi 

Pendahuluan

Pembelajaran berdiferensiasi (differentiated instruction) adalah jawaban untuk pertanyaan, “bagaimana kurikulum yang fleksibel dapat diterapkan di sekolah yang dapat memberikan layanan pembelajaran yang bervariasi kepada peserta didik (teaching at the right level)? dalam satu sekolah atau bahkan di ruang kelas, terdapat berbagai karakteristik peserta didik yang memiliki tingkat kesiapan belajar, minat, bakat, dan gaya belajar yang berbeda satu dengan yang lain. Oleh karena itu, mereka memerlukan pelayanan pengajaran yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Carol A. Tomlinson, seorang pendidik sejak tahun 1995 telah menuliskan idenya dalam buku yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classrooms mengenai suatu pengajaran yang memperhatikan perbedaan individu peserta didik. Kemudian idenya dikenal dengan nama differentiated instruction atau pembelajaran berdiferensiasi. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru mengajarkan materi dengan memperhatikan tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar peserta didik. Guru juga dapat memodifikasi isi pelajaran (konten), proses pembelajaran, produk atau hasil dari pembelajaran yang diajarkan, serta lingkungan belajar. Proses pembelajaran berdiferensiasi diterapkan oleh sekolah agar dapat memerdekakan peserta didik dalam belajar karena peserta didik tidak dituntut harus sama dalam segala hal dengan yang lain.

Purba (2021:27) menyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berbeda dengan pembelajaran individual seperti yang dipakai untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru tidak menghadapi peserta didik secara khusus satu persatu (on-one-on) agar ia mengerti apa yang diajarkan. Peserta didik dapat berada di kelompok besar, kecil atau secara mandiri dalam belajar.

Prinsip Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar di mana peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai, dan kebutuhannya masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya. (Magee dan Breaux, 2010).

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memahami dan menyadari bahwa tidak ada hanya satu cara, metode, strategi yang dilakukan dalam mempelajari suatu bahan pelajaran. Guru perlu menyusun bahan pelajaran, kegiatan-kegiatan, tugas-tugas harian baik yang dikerjakan di kelas maupun yang di rumah, dan asesmen akhir sesuai dengan kesiapan peserta didik dalam mempelajari bahan pelajaran tersebut, minat atau hal apa yang disukai peserta didiknya dalam belajar, dan bagaimana cara menyampaikan pelajaran yang sesuai dengan profil belajar peserta didiknya.

Pembelajaran Berdiferensiasi harus dibentuk melalui cara berpikir guru yang menganggap setiap anak dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Tomlinson and Moon (2013) sebagai tokoh dari pembelajaran berdiferensiasi menyatakan bahwa ada lima prinsip dasar yang membantu guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi ini.

1. Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar yang dimaksud meliputi lingkungan fisik sekolah dan kelas dimana peserta didik menghabiskan waktunya dalam belajar di sekolah. Iklim belajar merujuk pada situasi dan kondisi yang dirasakan peserta didik saat belajar, relasi, dan berinteraksi dengan peserta didik lain maupun gurunya. Di dalam pembelajaran guru harus memberikan respon kepada peserta didik sesuai dengan kesiapan, minat, dan profil belajar mereka supaya kebutuhan mereka dalam belajar terpenuhi. Hattie dalam Tomlinson (2013) menyatakan bahwa kepercayaan dari peserta didik diperoleh guru dengan cara: a) memberikan respek yang benar terhadap nilai, kemampuan, dan tanggung jawab dari peserta didik; b) memberikan optimisme kepada peserta didik bahwa mereka memiliki kemampuan yang besar untuk mempelajari materi pelajaran yang diberikan; dan c) aktif dan mendukung peserta didik secara nyata agar mereka dapat sukses

2. Kurikulum yang berkualitas

Di dalam kurikulum yang berkualitas tentu saja harus memiliki tujuan yang jelas sehingga guru dapat tahu apa yang akan dituju di akhir pembelajaran. Di samping itu fokus guru dalam mengajar adalah pada pengertian peserta didik, bukan pada apa materi yang dihafalkan mereka. Yang terpenting adalah pemahaman terhadap materi pelajaran yang ada di benak peserta didik sehingga dapat diterapkan dalam kehidupannya. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru adalah bagaimana kurikulum yang ada dapat menantang semua peserta didiknya baik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, yang sedang, maupun di bawah rata-rata. Bagi peserta didik yang berada di atas rata-rata, guru perlu menantang mereka dengan pemikiran-pemikiran lain yang lebih mendalam tentang materi yang dibahas sehingga mereka tidak akan jenuh dan bosan dalam mempelajarinya.

3. Asesmen berkelanjutan

Asesmen yang berkelanjutan adalah guru secara terus menerus melakukan formatif asesmen dalam pembelajaran agar dapat memperbaiki pengajarannya dan juga mengetahui apakah peserta didik sudah mengerti tentang materi pelajaran yang dibahas. Jadi asesmen formatif ini tidak diberikan nilai (angka), melainkan hanya sebagai diagnostik tes atau mengetahui masalah-masalah apa yang dihadapi peserta didik sehingga sulit mengerti, apa yang belum dimengerti, dan apa yang dapat dilakukan oleh guru untuk membantu peserta didik meningkatkan pengertiannya. Kemudian selama pembelajaran berlangsung guru memperhatikan bagaimana peserta didiknya belajar, apakah ada yang perlu dibantu dalam mengerjakan tugas yang diberikan atau perlu dijelaskan ulang instruksi dalam tugas yang diberikan. Setelah pembelajaran berakhir, guru kembali melakukan asesmen, yaitu asesmen akhir. Guru dapat melakukan dengan berbagai macam cara, misalnya guru memberikan secarik kertas dan meminta peserta didik menuliskan apa hal baru yang mereka pelajari hari itu, apa hal penting yang ia pelajari hari itu, apa yang masih kurang jelas, dan apa yang perlu diulang dalam pelajaran berikutnya. Guru juga dapat memberikan post test singkat kepada peserta didik tentang pelajaran hari itu agar ia tahu apakah peserta didik benar-benar menangkap apa yang sudah dijelaskan atau tidak. Asesmen akhir ini akan sangat membantu guru mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diulang atau dijelaskan kembali, hal -hal apa saja yang dapat dilakukan untuk menolong peserta didik yang mengalami kesulitan, dan apa yang tidak perlu diulang atau dijelaskan lagi. Tentu saja asesmen seperti ini tidak diberi nilai oleh guru karena fungsinya untuk memperbaiki kinerja dan pemahaman peserta didik tentang materi yang dipelajari.

4. Pengajaran yang responsive

Melalui asesmen akhir di setiap pelajaran, guru dapat mengetahui apa kekurangan-kekurangannya dalam membimbing peserta didiknya untuk memahami isi pelajaran. Oleh karena itu, guru dapat memodifikasi rencana pembelajaran yang sudah dibuat dengan kondisi dan situasi lapangan saat itu sesuai dengan hasil dari asesmen akhir yang dilakukan sebelumnya. Karena pengajaran lebih penting dari kurikulum sekolah sendiri, maka guru harus memberikan responnya terhadap hasil pembelajaran yang sudah dilakukan. Respon dari guru adalah menyesuaikan pelajaran berikutnya sesuai dengan kesiapan, minat, dan juga profil belajar peserta didik yang guru dapatkan melalui asesmen di akhir pelajaran.

5. Kepemimpinan dan Rutinitas di kelas

Guru yang baik adalah guru yang dapat mengatur kelasnya dengan baik. Kepemimpinan di sini diartikan bagaimana guru dapat memimpin peserta didiknya agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dan mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan. Sedangkan rutinitas di kelas mengacu pada keterampilan guru dalam mengelola atau mengatur kelasnya dengan baik melalui prosedur dan rutinitas di kelas yang dijalankan peserta didik setiap hari sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

 

Keragaman Peserta didik

Setiap manusia diciptakan unik dan khusus, tidak ada satu orangpun yang sama persis walaupun mereka kembar tetapi pasti ada perbedaan di antara mereka. Demikian juga halnya dengan peserta didik di kelas. Ketika mereka masuk dalam sekolah pastinya mereka bukanlah selembar kertas putih yang kosong. Di dalam diri setiap anak ada karakteristik dan potensi yang berbeda satu sama lainnya yang harus diperhatikan oleh guru. Tomlinson (2013) menjelaskan keragaman peserta didik dipandang dari 3 aspek yang berbeda, yaitu:

1. Kesiapan

Pengertian kesiapan di sini adalah sejauhmana kemampuan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru perlu bertanya, apa yang dibutuhkan oleh peserta didiknya sehingga mereka dapat berhasil dalam pelajarannya. Kesiapan peserta didik harus berhubungan erat dengan cara pikir guru-guru yaitu bahwa setiap peserta didik memiliki potensi untuk bertumbuh baik secara fisik, mental dan kemampuan intelektualnya. Kemudian, guru dapat menanyakan kepada peserta didiknya apa yang mereka minati.

2. Minat

Minat memiliki peranan yang besar untuk menjadi motivator dalam belajar. Guru dapat menanyakan kepada peserta didik apa yang mereka minati, hobby, atau pelajaran yang disukai oleh peserta didik. Tentu saja peserta didik akan mempelajari dengan tekun hal-hal yang menarik minat mereka masing-masing.

3. Profil Belajar

Profil belajar peserta didik mengacu pada pendekatan atau bagaimana cara yang paling disenangi peserta didik agar mereka dapat memahami pelajaran dengan baik. Ada peserta didik yang senang belajar dalam kelompok besar, ada yang senang berpasangan atau kelompok kecil atau ada juga yang senang belajar sendiri. Di samping itu panca indra juga memainkan peranan penting dalam belajar peserta didik. Ada peserta didik yang dapat belajar lewat pendengaran saja (auditory), ada yang harus melihat gambar-gambar atau ada yang cukup melihat tulisan-tulisan saja. Namun ada pula peserta didik yang memahami pelajaran dengan cara bergerak baik menggerakan hanya sebagian atau seluruh tubuhnya (kinestetik). Ada juga peserta didik yang hanya dapat mengerti jika ia memegang atau menyentuh benda-benda yang menjadi materi pelajaran atau yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang dipelajarinya.

Elemen yang Berdiferensiasi

Dalam pembelajaran berdiferensiasi 4 aspek yang ada dalam kendali atau kontrol guru adalah Konten, Proses, Produk, dan Lingkungan serta Iklim Belajar di kelas. Guru dapat menentukan bagaimana ke-4 aspek ini akan dilaksanakan di dalam pembelajaran di kelas. Guru mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mengubah konten, proses, produk, dan lingkungan dan iklim belajar di kelasnya masing-masing sesuai dengan profil peserta didik yang ada di kelasnya. Penjelasan keempat aspek tersebut sebagai berikut:

  1. Konten Yang dimaksud dengan konten adalah apa yang akan diajarkan oleh guru di kelas atau apa yang akan dipelajari oleh peserta didik di kelas. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada 2 cara membuat konten pelajaran berbeda, yaitu a) Menyesuaikan apa yang akan diajarkan oleh guru atau apa yang akan dipelajari oleh peserta didik berdasarkan tingkat kesiapan dan minat peserta didik b) Menyesuaikan bagaimana konten yang akan diajarkan atau dipelajari itu akan disampaikan oleh guru atau diperoleh oleh peserta didik berdasarkan profil belajar yang dimiliki oleh masing[1]masing peserta didik. Strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat mendiferensiasi konten yang akan dipelajari oleh peserta didik adalah: a) Menggunakan materi yang bervariasi, b) Menggunakan Kontrak Belajar, c) Menyediakan pembelajaran mini, d) Menyajikan materi dengan berbagai moda pembelajaran, dan e) Menyediakan berbagai sistem yang mendukung.
  2. Proses Yang dimaksud dalam proses pada bagian ini adalah kegiatan yang dilakukan peserta didik di kelas. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang bermakna bagi peserta didik sebagai pengalaman belajarnya di kelas, bukan kegiatan yang tidak berkorelasi dengan apa yang sedang dipelajarinya. Kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik ini tidak diberi penilaian kuantitatif berupa angka, melainkan penilaian kualitatif yaitu berupa catatan-catatan umpan balik mengenai sikap, pengetahuan dan keterampilan apa yang masih kurang dan perlu diperbaiki/ditingkatkan oleh peserta didik. Kegiatan yang dilakukan harus memenuhi kriteria sebagai kegiatan yang: a. baik, yaitu kegiatan yang menggunakan keterampilan informasi yang dimiliki peserta didik. b. berbeda dalam hal tingkat kesulitan dan cara pencapaiannya. Kegiatan-kegiatan yang bermakna yang dilakukan oleh peserta didik di dalam kelas harus dibedakan juga berdasarkan kesiapan, minat, dan juga profil belajar peserta didik.
  3. Produk Biasanya produk ini merupakan hasil akhir dari pembelajaran untuk menunjukkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman peserta didik setelah menyelesaikan satu unit pelajaran atau bahkan setelah membahas materi pelajaran selama 1 semester. Produk sifatnya sumatif dan perlu diberi nilai. Produk lebih membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya dan melibatkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam dari peserta didik. Oleh karenanya seringkali produk tidak dapat diselesaikan dalam kelas saja, tetapi juga di luar kelas. Produk dapat dikerjakan secara individu maupun berkelompok. Jika produk dikerjakan secara berkelompok, maka harus dibuat sistem penilaian yang adil berdasarkan kontribusi masing-masing anggota kelompoknya dalam mengerjakan produk tersebut. Produk yang akan dikerjakan oleh peserta didik tentu saja harus berdiferensiasi sesuai dengan kesiapan, minat, dan profil belajar peserta didik.
  4. Lingkungan belajar Lingkungan belajar yang dimaksud meliputi susunan kelas secara personal, sosial, dan fisik. Lingkungan belajar juga harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik dalam belajar, minat mereka, dan profil belajar mereka agar mereka memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Misalnya guru dapat menyiapkan beberapa susunan tempat duduk peserta didik yang ditempelkan di papan pengumuman kelas sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan gaya belajar mereka. Jadi peserta didik dapat duduk di kelompok besar atau kecil yang berbeda-beda, dapat juga bekerja secara individual, maupun berpasang-pasangan. Pengelompokkan juga dapat dibuat berdasarkan minat peserta didik yang sejenis, maupun tingkat kesiapan yang berbeda[1]beda maupun yang sama tergantung tujuan pembelajarannya. Pada dasarnya, guru perlu menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi peserta didik sehingga merasa aman, nyaman, dan tenang dalam belajar karena kebutuhan mereka terpenuhi.

 

Tahapan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi

A. Tahap Awal

Sebagai tahapan awal praktik pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang kurikulum, dasar-dasar pembelajaran berdiferensiasi, dan perubahan pola pikir guru dari pembelajaran yang berorientasi pada target capaian nilai akhir dan ketuntasan konten belajar, menuju ke pembelajaran yang lebih berorientasi pada peserta didik. Hasil akhir dari pembelajaran adalah pengembangan kompetensi peserta didik yang mungkin sekali sangat beragam satu dengan yang lain. Untuk itu fokus pada pembelajaran berdiferensiasi bukan pada luasnya konten, namun kedalaman pemahaman, penguasaan konsep, peningkatan keterampilan, sehingga peserta didik mampu menerapkannya untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupannya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah adalah mempersiapkan guru untuk mampu menjalani berbagai peran berikut.

  1. Perancang pembelajaran. Guru perlu memiliki kesadaran dan pemahaman mengenai keberagaman peserta didik yang memerlukan intervensi secara berbeda. Untuk itu guru dituntut untuk mampu merancang RPP yang mengkonkretkan hal-hal yang akan dilakukan di kelas. Guru membayangkan proses implementasi pembelajaran serta kemungkinan hambatan yang perlu disiapkan dan diantisipasi. Peran guru sebagai perancang pembelajaran juga termasuk menentukan asesmen sebagai indikator dari pencapaian tujuan pembelajaran. Sehingga, asesmen perlu dipikirkan di awal kegiatan merancang pembelajaran.
  2. Fasilitator pembelajaran. Guru perlu memiliki kemampuan melakukan refleksi. Mampu berpikir dan bertanya mengenai proses berpikir sendiri. Selain itu penting bagi seorang guru untuk memiliki kemampuan komunikasi yang memberdayakan peserta didik agar mampu mandiri dan memanfaatkan potensi dirinya. Mampu membimbing peserta didik membangun pemahamannya baik dalam setting berkelompok maupun pribadi, mengarahkan dengan cara mengajukan pertanyaan bimbingan dan mendengarkan peserta didik. Guru juga perlu memandu dan memperkaya interaksi yang terjadi di antara peserta didiknya sehingga tercipta iklim belajar yang kondusif di kelasnya.
  3. Motivator belajar Memastikan kondisi yang membuat guru dan peserta didik nyaman untuk mengakomodasi unsur keberagaman dengan tetap mengedepankan empati dan harmoni. Guru diharapkan mampu membimbing peserta didik untuk mengembangkan mindset bertumbuh, membimbing peserta didik menuju kemampuan kendali diri secara internal dengan komunikasi yang positif dan dialogis, kesepakatan kelas, dan memberikan pilihan dan suara (choice and voice) pada peserta didik untuk terus mengembangkan potensi dirinya.

 

B. Tahap Pelaksanaan

Purba (2021:64) menyatakan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan melalui serangkaian tahapan yang saling terkait, berkesinambungan, dan berulang, yang menciptakan sebuah siklus proses.

 

Gambar 1 Siklus Proses Pembelajaran Berdiferensiasi

Proses pembelajaran berdiferensiasi diawali dengan tahapan asesmen diagnostik. Asesmen diagnostik merupakan tahapan yang paling mendasar dilakukan dalam sebuah proses pembelajaran yang berdiferensiasi. Sayangnya tahapan asesmen diagnostik seringkali absen dalam praktik pembelajaran di kelas selama ini. Asesmen terlalu menitik beratkan pada asesmen terhadap capaian hasil belajar. Pembelajaran di kelas dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi awal peserta didik, sehingga penerapannya sering kali menggunakan pendekatan one-size-fits-all atau satu untuk semua.

Asesmen diagnostik sebagai asesmen di awal proses belajar digunakan untuk membantu guru mengukur penguasaan dan kebutuhan peserta didik terkait capaian kurikulum. Hasil asesmen diagnostik memberikan informasi yang dapat digunakan guru dan peserta didik menentukan tujuan dan tahapan belajar. Untuk mengenali profil peserta didik secara menyeluruh, asesmen yang dilakukan perlu meliputi aspek kognitif dan non[1]kognitif. Informasi mendasar yang diperoleh dari asesmen diagnostik kognitif antara lain adalah, tahapan penguasaan kompetensi literasi dan numerasi yang merupakan kompetensi minimal peserta didik untuk mampu belajar, tingkat pengetahuan awal pada sebuah mata pelajaran, serta cara belajar. Sementara itu, dari asesmen diagnostik non-kognitif dapat diperoleh informasi lain mengenai profil peserta didik, minat dan bakat, serta kesiapan belajar secara psikologis.

Untuk memastikan terlaksananya prinsip teaching at the right level, perlu pula dilakukan analisis kurikulum. Langkah-langkah dalam tahapan ini antara lain; 1) menganalisis kurikulum dan kompetensi yang ingin dicapai; 2) menentukan tujuan pembelajaran yang digunakan untuk pembuatan perencanaan; 3) merancang asesmen dan bukti asesmen; dan 4) mengurutkan strategi pembelajaran dari awal sampai asesmen.

Setelah melalui kedua tahapan awal, asesmen diagnostik dan analisis kurikulum, praktik pembelajaran berdiferensiasi mulai dapat dilaksanakan. Pembelajaran berdiferensiasi konten dilakukan setelah mendapatkan hasil analisis kurikulum. Diferensiasi pada konten, terkait erat dengan cakupan materi pembelajaran yang akan dipelajari peserta didik. Misalnya tema-tema apa yang akan dipilih sesuai dengan minat peserta didik, sejauh mana rentang cakupan pembelajaran dibutuhkan, serta tingkat kesulitan materi yang diberikan sesuai tingkat penguasaan literasi, numerasi, dan pengetahuan mereka. Dengan demikian konten-konten pembelajaran akan lebih relevan dan kontekstual bagi peserta didik.

Diferensiasi konten juga terlihat dalam pemilihan bahan ajar. Misalnya pemilihan bahan sesuai pengelompokan Rowntree (1995) berdasarkan sifatnya, yaitu: 1) bahan ajar berbasis cetak, termasuk di dalamnya buku, panduan belajar peserta didik, modul, tutorial, lembar kerja peserta didik, peta, bagan, foto, majalah dan koran, dan lain-lain; 2) bahan ajar yang berbasis teknologi, seperti siaran audio, film, siaran televisi, video interaktif, tutorial digital, dan multimedia; 3) bahan ajar yang digunakan untuk praktik atau proyek, seperti alat peraga sains, lembar observasi, lembar wawancara, dan lain-lain; serta 4) bahan ajar yang dibutuhkan untuk keperluan interaksi manusia (terutama untuk keperluan pendidikan jarak jauh), misalnya: telepon genggam, aplikasi belajar, dan lain-lain.

Diferensiasi pada proses atau cara terkait dengan bagaimana peserta didik dapat memproses informasi untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman konsep, dan menerapkannya. Dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi proses, guru perlu mempertimbangan berbagai strategi dan aktivitas yang berbeda-beda yang memfasilitasi kebutuhan murid dalam kelompok besar dan kecil, sesuai dengan cara belajarnya. Untuk semakin memfasilitasi keberagaman peserta didik dalam pembelajaran di kelas, serta mendukung motivasi belajarnya, diferensiasi lingkungan belajar juga dapat menjadi pilihan untuk diterapkan di dalam proses pembelajaran.

Diferensiasi produk dilakukan sebagai tahapan asesmen capaian belajar atau asesmen sumatif. Melalui pilihan produk yang sesuai dengan profil dan kebutuhan peserta didik, guru dapat secara komprehensif melakukan asesmen untuk melihat perkembangan kompetensi dan capaian tujuan belajar peserta didik. Diferensiasi produk juga memberikan kesempatan pada peserta didik untuk memperkaya pengalaman belajar yang lebih relevan dan kontekstual dengan dunia nyata.

 

C. Tahap Evaluasi

Bagian ini merupakan tahap akhir yang dilakukan setelah penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagai asesmen sumatif. Hasil pelaksanaannya kemudian dianalisis untuk mendapatkan serangkain data kesimpulan dari capaian dan perkembangan peserta didik. Tahapan evaluasi ini bukan merupakan penghakiman bagi peserta didik. Sesuai dengan prinsip bertumbuh, evaluasi merupakan tahapan yang menentukan dimulainya sebuah siklus pembelajaran berdiferensiasi yang baru.

Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi konten, proses dan produk, serta evaluasi akhir, diperoleh umpan balik berkelanjutan. Dari setiap proses pembelajaran yang berdiferensiasi perbaikan pada pilihan proses dan konten, serta evaluasi tujuan pembelajaran terus menerus dilakukan. Evaluasi peserta didik juga memberikan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk terus memahami profil peserta didik. Sampai sejauh mana mereka telah berkembang. Asesmen dalam pembelajaran diferensiasi tidak lagi hanya di akhir semester atau tahun, tapi merupakan hal rutin yang terjadi dalam seluruh proses pembelajaran, dari awal maupun akhir.

  

Penutup

Pembelajaran berdiferensiasi berbeda dengan pembelajaran individual seperti yang dipakai untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru tidak menghadapi peserta didik secara khusus satu persatu agar ia mengerti apa yang diajarkan. Peserta didik dapat berada di kelompok besar, kecil atau secara mandiri dalam belajar.

Pembelajaran Berdiferensiasi harus dibentuk melalui cara berpikir guru yang menganggap setiap anak dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada 3 aspek yang bisa dibedakan oleh guru agar peserta didiknya dapat mengerti bahan pelajaran yang mereka pelajari, yaitu aspek konten yang mau diajarkan, aspek proses atau kegiatan bermakna yang akan dilakukan oleh peserta didik di kelas, dan aspek ketiga adalah asesmen berupa pembuatan produk yang dilakukan di bagian akhir yang dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.

 

SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat: Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.
Together Everyone Achieves More. Yes!

Komentar

Ma sya Allah mantap nih. Sukses selalu untuk SMAN 15 Tanjung Jabung Barat

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Raih Empat Juara Pertama pada FLS3N Tingkat Kabupaten 2026

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 02/05/2026 Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh siswa-siswi SMAN 15 Tanjung Jabung Barat. Dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasion

02/05/2026 21:00 - Oleh Administrator - Dilihat 344 kali
KEPMENDIKDASMEN 271/O/2025: PANDUAN LENGKAP PENGELOLAAN KINERJA GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TERBARU

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 22/12/2025 Pendahuluan: Era Baru Pengelolaan Kinerja di Dunia Pendidikan Pemerintah telah menetapkan regulasi baru melalui Keputusan Menteri P

22/12/2025 22:45 - Oleh Administrator - Dilihat 1258 kali
Mengapa Pembelajaran Mendalam Penting? Menghubungkan Deep Learning, Deep Thinking, dan Deep Work

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 15/11/2025 Di era perubahan yang berlangsung begitu cepat, pembelajaran tidak cukup berhenti pada tingkat hafalan atau sekadar mengenal informa

15/11/2025 22:02 - Oleh Administrator - Dilihat 982 kali
SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Laksanakan Pembelajaran Mandiri Selama Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 31/10/2025 Menindaklanjuti surat dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Nomor R-400.3/S-906/DISDIK/X/2025 tertanggal 30 Oktober 2025, SMAN 15 Tan

31/10/2025 04:17 - Oleh Administrator - Dilihat 1052 kali
Debat dan Kampanye Pemilihan Ketua/Wakil Ketua OSIS dan MPK SMAN 15 Tanjung Jabung Barat Masa Bakti 2025/2026

sman15tanjabbarat.sch.id, TEBING TINGGI, 30/09/2025 Suasana demokrasi terasa hangat di lingkungan SMA Negeri 15 Tanjung Jabung Barat. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan Deba

30/09/2025 16:00 - Oleh Administrator - Dilihat 867 kali